Tulang Bawang Menggala,
Di hari-hari ini, sesekali pergilah ke mall atau supermarket besar yang ada
di kota Anda. Lihatlah interior mall atau supermarket tersebut. Anda pasti
menjumpai interiornya dipenuhi pernak-pernik—apakah itu berbentuk pita, bantal
berbentuk hati, boneka beruang, atau rangkaian bunga—yang didominasi dua warna:
pink dan biru muda.
Dan Anda pasti mafhum, sebentar lagi kebanyakan anak-anak muda seluruh dunia
akan merayakan Hari Kasih Sayang atau yang lebih tenar distilahkan dengan
Valentine Day.
Momentum ini sangat disukai anak-anak remaja, terutama remaja perkotaan.
Karena di hari itu, 14 Februari, mereka terbiasa merayakannya bersama
orang-orang yang dicintai atau disayanginya, terutama kekasih. Valentine Day
memang berasal dari tradisi Kristen Barat, namun sekarang momentum ini
dirayakan di hampir semua negara, tak terkecuali negeri-negeri Islam besar
seperti Indonesia.
Sayangnya, tidak semua anak-anak remaja memahami dengan baik esensi dari
Valentine Day. Mereka menganggap perayaan ini sama saja dengan
perayaan-perayaan lain seperti Hari Ibu, Hari Pahlawan, dan sebagainya. Padahal
kenyataannya sama sekali berbeda.
Hari Ibu, Hari Pahlawan, dan semacamnya sedikit pun tidak mengandung muatan
religius. Sedangkan Valentine Day sarat dengan muatan religius, bahkan bagi
orang Islam yang ikut-ikutan merayakannya, hukumnya bisa musyrik, karena
merayakan Valentine Day tidak bisa tidak berarti juga ikut mengakui Yesus
sebagai Tuhan. Naudzubilahi min Dzalik. Mengapa demikian?
SEJARAH VALENTINE DAY
Sesungguhnya, belum ada kesepakatan final di antara para sejarawan tentang
apa yang sebenarnya terjadi yang kemudian diperingati sebagai hari Valentine.
Dalam buku ‘Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Hallowen: So
What?” (Rizki Ridyasmara, Pusaka Alkautsar, 2005), sejarah Valentine Day
dikupas secara detil. Inilah salinannya:
Ada banyak versi tentang asal dari perayaan Hari Valentine ini. Yang paling
populer memang kisah dari Santo Valentinus yang diyakini hidup pada masa Kaisar
Claudius II yang kemudian menemui ajal pada tanggal 14 Februari 269 M. Namun
ini pun ada beberapa versi. Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat
adalah kalau kita menelisik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme
(dewa-dewi) Romawi Kuno, sesuatu yang dipenuhi dengan legenda, mitos, dan
penyembahan berhala.
Menurut pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari memang sudah
dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh kalender Athena kuno,
periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari disebut sebagai
bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan
Hera.
Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, yang merujuk
kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini
digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit
kambing.
Di zaman Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akan melakukan
ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa
kambing kepada sang dewa.
Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalam kota
Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang
mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk disentuh kulit kambing
itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut akan bisa
mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu yang sangat dibanggakan di Roma
kala itu.
Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno
yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15
Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan
untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.
Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam
sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara acak. Gadis
yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang
dan menjadi obyek hiburan sang pemuda yang memilihnya.
Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan
Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, para lelaki muda
melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para perempuann itu berebutan untuk
bisa mendapat lecutan karena menganggap bahwa kian banyak mendapat lecutan maka
mereka akan bertambah cantik dan subur.
Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara paganisme
(berhala) ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Antara lain mereka
mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara
pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.
Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I
menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama
Saint Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentine yang kebetulan
meninggal pada tanggal 14 Februari.
Tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti telah
disinggung di muka, para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat ini sekurangnya
ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari. Seorang di antaranya
dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa Romawi. Namun ini pun tidak pernah
ada penjelasan yang detil siapa sesungguhnya “St. Valentine” termaksud, juga
dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber
mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II yang memerintahkan Kerajaan Roma
berang dan memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan Santo Valentine karena
ia dengan berani menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih, sembari menolak
menyembah tuhan-tuhannya orang Romawi. Orang-orang yang bersimpati pada Santo
Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara muda
bujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orang yang
menikah. Sebab itu kaisar lalu melarang para pemuda yang menjadi tentara untuk
menikah. Tindakan kaisar ini diam-diam mendapat tentangan dari Santo Valentine
dan ia secara diam-diam pula menikahkan banyak pemuda hingga ia ketahuan dan
ditangkap. Kaisar Cladius memutuskan hukuman gantung bagi Santo Valentine. Eksekusi
dilakukan pada tanggal 14 Februari 269 M.
TRADISI KIRIM KARTU
Selain itu, tradisi mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan
langsung dengan Santo Valentine. Pada tahun 1415 M, ketika Duke of Orleans
dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St. Valentine
tanggal 14 Februari, ia mengirim puisi kepada isterinya di Perancis.
Oleh Geoffrey Chaucer, penyair Inggris, peristiwa itu dikaitkannya dengan
musim kawin burung-burung dalam puisinya.
Lantas, bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” yang sampai sekarang
masih saja terdapat di banyak kartu ucapan atau dinyatakan langsung oleh
pasangannya masing-masing? Ken Sweiger mengatakan kata “Valentine” berasal dari
bahasa Latin yang mempunyai persamaan dengan arti: “Yang Maha Perkasa, Yang
Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini sebenarnya pada zaman Romawi Kuno
ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi.
Disadari atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang meminta orang
lain atau pasangannya menjadi “To be my Valentine?”, maka dengan hal itu
sesungguhnya kita telah terang-terangan melakukan suatu perbuatan yang dimurkai
Tuhan, istilah Sweiger, karena meminta seseorang menjadi “Sang Maha Kuasa” dan
hal itu sama saja dengan upaya menghidupkan kembali budaya pemujaan kepada
berhala.
Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi atau lelaki rupawan setengah
telanjang yang bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa
Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia begitu rupawan sehingga diburu banyak
perempuan bahkan dikisahkan bahwa ibu kandungnya sendiri pun tertarik sehingga
melakukan incest dengan anak kandungnya itu!
Silang sengketa siapa sesungguhnya Santo Valentine sendiri juga terjadi di
dalam Gereja Katolik sendiri. Menurut gereja Katolik seperti yang ditulis dalam
The Catholic Encyclopedia (1908), nama Santo Valentinus paling tidak merujuk
pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yakni: seorang pastur di
Roma, seorang uskup Interamna (modern Terni), dan seorang martir di provinsi
Romawi Afrika. Koneksi antara ketiga martir ini dengan Hari Valentine juga
tidak jelas.
Bahkan Paus Gelasius II, pada tahun 496 menyatakan bahwa sebenarnya tidak
ada yang diketahui secara pasti mengenai martir-martir ini, walau demikian Gelasius
II tetap menyatakan tanggal 14 Februari tiap tahun sebagai hari raya peringatan
Santo Valentinus.
da yang mengatakan, Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini untuk
menandingi hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus
dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Jenazah itu
kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke Gereja Whitefriar Street
Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka
oleh Paus Gregorius XVI pada 1836.
Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine,
di mana peti emas diarak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah
altar tinggi di dalam gereja. Pada hari itu, sebuah misa khusus diadakan dan
dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan
cinta. Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 dengan
alasan sebagai bagian dari sebuah usaha gereja yang lebih luas untuk menghapus
santo dan santa yang asal-muasalnya tidak bisa dipertanggungjawabkan karena
hanya berdasarkan mitos atau legenda. Namun walau demikian, misa ini sampai
sekarang masih dirayakan oleh kelompok-kelompok gereja tertentu.
Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari mitos dan legenda
zaman Romawi Kuno di mana masih berlaku kepercayaan paganisme (penyembahan
berhala). Gereja Katolik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sesungguhnya
Santo Valentine yang dianggap menjadi martir pada tanggal 14 Februari. Walau
demikian, perayaan ini pernah diperingati secara resmi Gereja Whitefriar Street
Carmelite Church di Dublin, Irlandia dan dilarang secara resmi pada tahun 1969.
Beberapa kelompok gereja Katolik masih menyelenggarakan peringatan ini tiap
tahunnya.
KEPENTINGAN BISNIS
Kalau pun Hari Valentine masih dihidup-hidupkan hingga sekarang, bahkan ada
kesan kian meriah, itu tidak lain dari upaya para pengusaha yang bergerak di
bidang pencetakan kartu ucapan, pengusaha hotel, pengusaha bunga, pengusaha
penyelenggara acara, dan sejumlah pengusaha lain yang telah meraup keuntungan
sangat besar dari event itu.
Mereka sengaja, lewat kekuatan promosi dan marketingnya, meniup-niupkan Hari
Valentine Day sebagai hari khusus yang sangat spesial bagi orang yang dikasihi,
agar dagangan mereka laku dan mereka mendapat laba yang amat sangat besar.
Inilah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai industrialisasi
agama, di mana perayaan agama oleh kapitalis dibelokkan menjadi perayaan
bisnis.
PESTA KEMAKSIATAN
Christendom adalah sebutan lain untuk tanah-tanah atau negeri-negeri Kristen
di Barat. Awalnya hanya merujuk pada daratan Kristen Eropa seperti Inggris,
Perancis, Belanda, Jerman, dan sebagainya, namun dewasa ini juga merambah ke
daratan Amerika.
Orang biasanya mengira perayaan Hari Valentine berasal dari Amerika. Namun
sejarah menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine sesungguhnya berasal dari
Inggris. Di abad ke-19, Kerajaan Inggris masih menjajah wilayah Amerika Utara.
Kebudayaan Kerajaan inggris ini kemudian diimpor oleh daerah koloninya di
Amerika Utara.
Di Amerika, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak
setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester,
Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang
besar. Mr. Howland mendapat ilham untuk memproduksi kartu di Amerika dari
sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. Upayanya ini kemudian diikuti
oleh pengusaha-pengusaha lainnya hingga kini.
Sejak tahun 2001, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS)
tiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for a Greeting
Card Visionary" kepada perusahaan pencetak kartu terbaik.
Sejak Howland memproduksi kartu ucapan Happy Valentine di Amerika, produksi
kartu dibuat secara massal di selutuh dunia. The Greeting Card Association
memperkirakan bahwa di seluruh dunia, sekitar satu milyar kartu Valentine
dikirimkan per tahun. Ini adalah hari raya terbesar kedua setelah Natal dan
Tahun Baru (Merry Christmast and The Happy New Year), di mana kartu-kartu
ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama juga memperkirakan bahwa para
perempuanlah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.
Mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu di Amerika
mengalami diversifikasi. Kartu ucapan yang tadinya memegang titik sentral,
sekarang hanya sebagai pengiring dari hadiah yang lebih besar. Hal ini sering
dilakukan pria kepada perempuan. Hadiah-hadiahnya bisa berupa bunga mawar dan
coklat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari
Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan kepada perempuan
pilihan.
Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, sebuah kencan pada hari
Valentine sering ditafsirkan sebagai permulaan dari suatu hubungan yang serius.
Ini membuat perayaan Valentine di sana lebih bersifat ‘dating’ yang sering di
akhiri dengan tidur bareng (perzinaan) ketimbang pengungkapan rasa kasih sayang
dari anak ke orangtua, ke guru, dan sebagainya yang tulus dan tidak disertai
kontak fisik. Inilah sesungguhnya esensi dari Valentine Day.
Perayaan Valentine Day di negara-negara Barat umumnya dipersepsikan sebagai
hari di mana pasangan-pasangan kencan boleh melakukan apa saja, sesuatu yang
lumrah di negara-negara Barat, sepanjang malam itu. Malah di berbagai hotel
diselenggarakan aneka lomba dan acara yang berakhir di masing-masing kamar yang
diisi sepasang manusia berlainan jenis. Ini yang dianggap wajar, belum lagi
party-party yang lebih bersifat tertutup dan menjijikan.
IKUT MENGAKUI YESUS SEBAGAI TUHAN
Tiap tahun menjelang bulan Februari, banyak remaja Indonesia yang notabene
mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine.
Walau sudah banyak di antaranya yang mendengar bahwa Valentine Day adalah salah
satu hari raya umat Kristiani yang mengandung nilai-nilai akidah Kristen, namun
hal ini tidak terlalu dipusingkan mereka. “Ah, aku kan ngerayaain Valentine
buat fun-fun aja…, ” demikian banyak remaja Islam bersikap. Bisakah dibenarkan
sikap dan pandangan seperti itu?
Perayaan Hari Valentine memuat sejumlah pengakuan atas klaim dogma dan
ideologi Kristiani seperti mengakui “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan lain
sebagainya. Merayakan Valentine Day berarti pula secara langsung atau tidak,
ikut mengakui kebenaran atas dogma dan ideologi Kristiani tersebut, apa pun
alasanya.
Nah, jika ada seorang Muslim yang ikut-ikutan merayakan Hari Valentine, maka
diakuinya atau tidak, ia juga ikut-ikutan menerima pandangan yang mengatakan
bahwa “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan sebagainya yang di dalam Islam
sesungguhnya sudah termasuk dalam perbuatan musyrik, menyekutukan Allah SWT,
suatu perbuatan yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Naudzubillahi
min dzalik!
“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ”
Demikian bunyi hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah juga berkata, “Memberi selamat atas
acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa
perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa
mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang
mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu
merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan
mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya
di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum
khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam
suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Ia telah
menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah. ”
Allah SWT sendiri di dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 melarang umat
Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani, “Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi
sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi
pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." Wallahu'alam
bishawab.(Rz)
Sumber : Eramuslim.Com
Jumat, 14 Februari 2014
Selasa, 11 Februari 2014
Tulang Bawang; Otonomi Masyarakat Hukum Adat
Menggala:, Sejak digulirkannya era reformasi,
otonomi daerah dan supremasi hukum, telah membawa perubahan yang signifikan
terhadap sistem pengaturan komunitas masyarakat hukum adat melalui amandemen
UUD 1945 Pasal I8B. Sayang keadaan ini tidak membuat kehidupan masyarakat hukum
adat menjadi lebih baik, bahkan keadaannya semakin memperihatinkan. Masyarakat
hukum adat semakin tergerus oleh kepentingan segelitir elite politik demi
memenuhi sahwat politiknya untuk menggapai kekuasaan.
Keadaan itu semakin tidak menguntungkan
komunitas masyarakat hukum adat, sebab sebagai contoh pertikaian konflik
agraria antara pihak kapitalis (dalam hal ini merupakan pihak perusahaan
swasta) dengan pihak komunitas masyarakat hukum adat (sebagai pengakuan adanya
hak ulayat) tidak pernah mendapatkan respon yang positif dari pihak pemerintah
daerah, dalam rangka melindungi dan menegakkan otoritas masyarakat hukum adat,
yang ada hanyalah janji-janji yang penuh dengan kepalsuan. Demokrasi yang
didengungkan itu hanyalah ditujukan guna melindungi hak-hak kapitalis yang
telah menggerogoti dan mengorbankan hak-hak masyarakat hukum adat sebagai
masyarakat marginal dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sejalan dengan hal tersebut diatas,
bertalian dengan adanya konflik kepentingan khususnya mengenai tampuk pimpinan
masyarakat hukum adat Megou Pak Tulang Bawang yang telah melahirkan empat (4)
pucuk pimpinan yang berbeda-beda secara geopolitik, adalah karena ketidak
pahaman beberapa unsur punyimbang adat dalam merespon gerak laju perubahan politik
dan hukum dinegeri ini, sebab sejak hapusnya pemerintahan Marga di Lampung 1952
(Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia : 127) tidak pernah ada gugatan secara
riil oleh para Punyimbang Adat Marga dalam menanggapi hapusnya pemerintahan
Marga di Lampung.
Bahkan pernah diwacanakan adanya
pemekaran Kabupaten nama Panaragan (sekarang wilayah eks Kabupaten Tulang
Bawang), yang digagas oleh Lembaga Masyarakat Adat Panaragan serta dituangkan
melalui Keputusan Lembaga Adat pada 20 Juli 2005, dengan maksud agar Kabupaten
tersebut dilahirkan atas dasar Pasal 18B UUD1945, sehingga Kabupaten tersebut
merupakan Kabupaten yang berADAT, akan tetapi kenyataannya adalah telah terjadi
penyimpangan serta pelecehan keputusan Lembaga Adat dimaksud oleh oknum-oknum
tertentu, yang diataranya mungkin saat ini telah menjabat sebagai pucuk
pimpinan Ketua Lembaga Adat Megou Pak Tulang Bawang. Untuk apa memegang
pimpinan adat jika tidak ada komitmen untuk mengangkat kembali citra masyarakat
hukum adat dalam kancah politik di negeri ini??
Otonomi yang didengungkan saat ini
hanyalah menguntungkan pihak-pihak birokrasi pemerintah daerah, pihak kapitalis
(Perusahaan Swasta), juga para elit politik yang memegang peran sebagai pembuka
keran otonomi daerah, sedangkan fungsi kelompok marginal cuma sekedar
menjadi kayu api bagi segelintir elite (R.Yando Zakaria, Praktisi Antropolog
pada Institut for Sosial Transpormation/Insist Yogyakarta), dalam rangka
menghidupkan bara api otonomi. Bukankah pemberian otonomi daerah tentunya
sejalan dengan pemuliaan identitas budaya di masing-masing daerah di Indonesia,
tapi kenyataannya adalah jauh panggang dari api.
Sebaiknya Partai Politik yang
mencalonkan seorang kepala daerah yang berasal dari unsur birokrasi pemerintah,
tidak mendapatkan tempat dalam kehidupan demokrasi, sebab secara rasional
Kepala Daerah adalah jabatan yang bersifat Politis, yang tentunya seorang
politisilah yang pantas untuk menduduki jabatan dimaksud, sebab jika seorang
birokrat menduduki jabatan yang bersifat politis, maka sudah barang tentu dia
tidak akan mengaspirasikan suara masyarakat sipil (masyarakat adat), melainkan
hanyalah kepentingan birokrasinya saja yang lebih diutamakannya. Coba dilihat
secara arif dan bijaksana sudah berapakah kader Partai Politik murni yang
menduduki jabatan kepala daerah se-Kabupaten di Lampung ini.
Untuk itu perlu kita sebagai sanak
Punyimbang kembali berinstropeksi diri serta sadar (NGEBERENGOH), bahwa dalam
era globalisasi saat ini penuh dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi,
sehingga kearifan budaya lokal khususnya budaya Lampung dapat terus berkembang
secara berkesinambungan dalam rangka menjawab tantangan zaman yang terus
berkembang secara berkelanjutan. Bukankah demokrasi merupakan syarat yang
diperlukan melindungi masyarakat adat (Sarwono Kusuma
Atmadja, Mantan Menteri Negara dan Pemberdayaan Aparatur Negara)..
Sebaiknya para Punyimbang adat Lampung
NGEBERENGOH, dan kembali pada tatanan musyawarah adat secara bulat dan utuh
guna mewujudkan konsensus politik adat, sehingga diharapkan kedepan masyarakat
hukum adat dapat berperan secara aktif dalam kancah politik di daerah. Bukan
punyimbang yang hebat yang kita perlukan, bukan pula punyimbang yang gagah yang
kita perlukan, bukan kampung yang tua, yang kita butuhkan, bukan pula kampung
yang eks kerajaan, penuh dengan kemistikan yang kita butuhkan, akan tetapi
komitmen untuk mengembalikan sistem pemerintahan Marga di Lampung adalah hal
yang sangat krusial untuk kita dengungkan bersama secara utuh dan menyeluruh
jak ujung Danau Ranau teliyew mit Way Kanan sampai Pantai Laut Jawa, atau
bahkan dari Ranau hingga ke Teladas, dari Palas Hingga ke Bengkunat, bersatu
padu mendengungkan kembalinya sistem Pemerintahan Marga di Lampung melalui UUD
1945 Pasal 18B berikut penjelasannya yang tetap menuangkan adanya kata Marga.
Dengan demikian, upaya mewujudkan otonomi masyarakat adat niscaya dan harus
memasuki arena politik, yang berpusat pada perubahan kebijakan pemerintah
daerah dan pemerintah pusat dan secara bersama-sama dilakukan penataan ulang
hubungan antara pemerintah (melalui kebijakan) dan komunitas-komunitas adat,
penguasaan atas wilayahnya, kelembagaan adatnya, dan hukum adat beserta
perangkatnya
(Noer Fauzi,
Konsorsium untuk Pembangunan Agraria Bandung).
Secara historis, Lampung juga mengenal
adanya konsep dewa trimurti, hanya saja konsep itu berbeda dalam penyebutannya.
Adapun konsep trimurti masyarakat Lampung yaitu Dewa Pun (Dewa Brahma), Dewa
Hung (Dewa Wisnu) dan Dewa Duguk (Dewa Siwa), oleh karena itu seorang pemimpin
masyarakat Lampung disebut Punyimbang.
Punyimbang tentunya adalah sosok yang sangat dihormati dan disegani di kalangan
komunitas masyarakat hukum adat secara geniologis, sebab, kata Punyimbang
berasal dari dua suku kata, yaitu “Pun” dan “Nyimbang”, Pun berarti Dewa
tertinggi dalam konsep trimurti (dewa Brahma) Lampung, sedangkan kata Nyimbang
berarti meniru. Secara bahasa Punyimbang berarti meniru segala tingkah laku
dewa (Achjarani Alf.). Bagaimana kelompok masyarakat hukum adat itu mau tunduk
kepada Punyimbangnya, sedangkan punyimbangnya tidak dapat dijadikan panutan
sebagai halnya Dewa Pun (Dewa Brahma). Untuk itu kembali kita pada pokok
persolaan, dimanakah para Punyimbang Adat itu ketika sistem Pemerintahan Marga
di Lampung hapus secara terselubung.
Adapun sistem pemerintahan adat Lampung
telah terorganisir secara baik, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya tiga (3)
warna Payung Agung yaitu Putih melambangkan Pemerintahan Marga dengan nilai
adatnya dua puluh empat (24), Payung Agung berwarna Kuning melambangkan
Pemerintahan Tiyuh dengan nilai adatnya dua belas (12), sedangkan Payung Agung
berwarna merah melambangkan adanya Pemerintahan Suku dengan nilai adatnya enam
(6). Nilai adat secara hukum dapat diartikan bahwa masyarakat hukum adat
Lampung tidak mengenal adanya persamaan dalam hukuman, sebab besar kemungkinan
jika seorang Punyimbang Adat Lampung berpangkat Marga melakukan tindak pidana,
maka hukumannya tentu lebih tinggi dari pada Punyimbang Tiyuh atau Suku.
Setidaknya jika diterapkan dalam sistem hukum di negeri ini, berarti juga
ketika seorang pejabat melakukan tindak pidana, maka hukumannya lebih berat
daripada masyarakat biasa.
Untuk itu perlunya persatuan dan
kesatuan komunitas masyarakat hukum adat guna menegakkan otonomi masyarakat
hukum adat, sehingga masyarakat hukum
adat dapat terlibat secara langsung dalam menata kehidupan politik di negeri
ini, terkhusus menata daerah dalam rangka mengisi pembangunan daerah yang
sejalan dengan otonomi daerah, serta tetap menjaga persatuan dan kesatuan
bangsa melalui empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka
Tunggal Ika dan NKRI.
Arkeolog Temukan
Sumur Kerajaan Sriwijaya di Jambi
Jumat, 12 Juli
2013, 21:06 WIB
Komentar : 0
dok.arkeologi ui
Temuan sumur di
Situs Kedaton, Cagar Budaya Muara Jambi, Sumatra Selatan.
Temuan sumur di
Situs Kedaton, Cagar Budaya Muara Jambi, Sumatra Selatan.
A+ | Reset | A-
REPUBLIKA.CO.ID,
JAMBI -- Arkeolog Indonesia kembali menemukan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya
setelah melakukan ekskavasi di Muaro Jambi beberapa waktu lalu. Dalam laporan
yang dipublikasikan Universitas Indonesia (UI), Jumat (12/7), salah satu temuan
yang mencolok adalah sumur yang biasa digunakan masyarakat Sriwajaya di masa
lalu.
Guru Besar
Arkeologi UI, Agus Aris Munandar, mengatakan Kerajaan Sriwijaya diduga berada
di kawasan Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Meski terkenal sebagai pusat
berkembangnya Kerajaan Sriwijaya, Palembang ternyata tidak memiliki banyak
bukti peninggalan.
Ini dibuktikan
dari penggalian sisa-sisa peninggalan Kerajaan Sriwijaya serta petirtaan berupa
sumur di Situs Kedaton, Kawasan Cagar Budaya Muaro Jambi, oleh 43 mahasiswa dan
lima dosen pembimbing. Mereka tergabung dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan
(KKL) Arkeologi Universitas Indonesia (UI) pada 16 – 28 Juni 2013.
Proses ekskavasi
dilakukan di 14 kotak gali di Situs Kedaton, Kawasan Cagar Budaya Muara Jambi.
Kawasan tersebut berada sekitar 20 kilometer dari Kota Jambi, atau 30 kilometer
dari Ibu Kota Kabupaten Muaro Jambi.
Pengajar
arkeologi UI yang berada di lokasi, Cecep Eka Permana, mengatakan bahwa salah
satu regu berhasil menemukan sumur yang terletak di arah timur laut, yang
merupakan arah yang paling baik bagi agama Buddha. Menurut Cecep, sumur
tersebut pada masanya digunakan sebagai sumber mata air. Sumur yang ditemukan tersebut baru digali
sedalam 1,5 meter. Di sekitar sumur tim juga menemukan sisa pecahan tembikar,
keramik, dan stoneware (barang pecah belah lainnya).
Selain sumur,
ditemukan pula struktur persegi di pinggir sumur yang diidentifikasi sebagai
lantai di sekitar sumur. Selain itu, ada juga struktur lain yang berbentuk bangunan
yang terlihat dari pola letak, halaman tengah, dan halaman luarnya. Pada
struktur luar, ditemukan fragmen-fragmen yang berbentuk besar dan kasar.
Sementara itu,
semakin ke dalam fragmen yang ditemukan semakin halus teksturnya. ”Dalam
konteks keagamaan, biasanya makin ke (ruangan bagian) dalam akan makin suci,”
ujar Cecep.
Sementara Agus
menambahkan, sebenarnya masih banyak bagian kawasan cagar budaya tersebut yang
belum dijamah, termasuk yang berada di
seberang Sungai Batanghari. Sedangkan Arca-arca lepas yang ditemukan di
Palembang bertuliskan ancaman-ancaman, maka dapat diartikan bahwa Palembang
merupakan kota yang telah ditaklukan oleh Sriwijaya.
Reporter : Stevy Maradona
Redaktur : Dewi Mardiani
Sindonews.com
- Kerajaan Sriwijaya diduga berada di kawasan Muaro Jambi, Provinsi Jambi.
Meski terkenal sebagai pusat berkembangnya Kerajaan Sriwijaya, Palembang,
ternyata tidak memiliki banyak bukti peninggalan.
Asumsi tersebut
didasarkan atas penemuan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Sriwijaya serta
petirtaan berupa sumur di Situs Kedaton, Kawasan Cagar Budaya Muaro Jambi, oleh
43 mahasiswa dan 5 dosen pembimbing yang tergabung dalam kegiatan Kuliah Kerja
Lapangan (KKL) Arkeologi Universitas Indonesia (UI) pada 16 – 28 Juni 2013.
Kegiatan utama
KKL Arkeolog UI pekan lalu tersebut adalah eskavasi - sebuah metode arkeologi
yang bertujuan menemukan kembali sisa-sisa kegiatan manusia masa lalu dengan
cara melakukan penggalian.
Proses ekskavasi
dilakukan di 14 kotak gali di Situs Kedaton, Kawasan Cagar Budaya Muara Jambi.
Kawasan tersebut berada sekitar 20 kilometer dari Kota Jambi, atau 30 kilometer
dari Ibu Kota Kabupaten Muaro Jambi.
Dosen pembimbing
KKL UI, Cecep Eka Permana, mengatakan bahwa salah satu regu berhasil menemukan
sumur yang terletak di arah timur laut, yang merupakan arah yang paling baik
bagi agama Budha. Menurut Cecep, sumur tersebut pada masanya digunakan sebagai
sumber mata air.
"Sumur yang
ditemukan tersebut baru digali sedalam 1,5 meter. Di sekitar sumur tim juga
menemukan sisa pecahan tembikar, keramik, dan stoneware (barang pecah belah
lainnya). Selain sumur, ditemukan pula struktur persegi di pinggir sumur yang
diidentifikasi sebagai lantai di sekitar sumur," ungkapnya kepada
wartawan, Jumat (12/07/2013).
Selain itu, kata
Cecep, ada juga struktur lain yang berbentuk bangunan yang terlihat dari pola
letak, halaman tengah, dan halaman luarnya. Pada struktur luar, ditemukan
fragmen-fragmen yang berbentuk besar dan kasar.
Sementara itu,
semakin ke dalam fragmen yang ditemukan semakin halus teksturnya. ”Dalam
konteks keagamaan, biasanya makin ke (ruangan bagian) dalam akan makin suci,”
ujar Cecep.
Sebenarnya masih
banyak bagian kawasan cagar budaya tersebut yang belum dijamah, termasuk yang
berada di seberang Sungai Batanghari. Sedangkan Arca-arca lepas yang ditemukan
di Palembang bertuliskan ancaman-ancaman, maka dapat diartikan bahwa Palembang
merupakan kota yang telah ditaklukan oleh Sriwijaya.
Kepala Kantor
Komunikasi UI Farida Haryoko mengatakan Departemen Arkeologi UI bersama
pemerintah setempat saat ini tengah bekerja sama menjadikan Kawasan Cagar
Budaya Muaro Jambi sebagai laboratorium penelitian, sehingga dapat dimanfaatkan
untuk penelitian arkeologi baik oleh dosen maupun mahasiswa Arkeologi.
Kegiatan
penelitian tersebut merupakan salah satu kegiatan perkuliahan wajib bagi para
mahasiswa Arkeologi yang berada di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI.
"Indonesia
sebagai negara yang sangat kaya akan peradaban dan sejarah membutuhkan banyak
arkeolog. UI sebagai salah satu dari (hanya) empat perguruan tinggi yang
memiliki program studi Arkeologi di Indonesia, diharapkan dapat memberikan
kontribusi optimal dalam melakukan studi, penggalian, pengumpulan, pengkajian,
serta segala menyampaikan fakta-fakta sejarah sampai ribuan tahun lalu kepada
generasi penerus bangsa serta masyarakat di Indonesia maupun dunia,"
tandas Farida.
Senin, 10 Februari 2014
6 Kerusakan Valentine’s Day
- Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
- Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
- Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
- Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.
إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ
مَرُّوا كِرَامًا
مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
مَا أَعْدَدْتَ لَهَا
مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ
صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله
عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ
النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ
أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ
أَعْمَالِهِمْ
فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ
وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ
أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ
سَبِيلًا
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ
الشَّيَاطِينِ
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Artikel www.muslim.or.id
Langganan:
Komentar (Atom)


